Biaya Potong Gaji Masih Tinggi

Author

Ilustrasi oleh Alamsyah Muhammad
Ilustrasi oleh Alamsyah Muhammad

Yemi, Buruh Migran Indonesia (BMI) dari kabupaten Blitar  ini telah 6 tahun bekerja di Hong Kong.

Di majikan pertama hanya bertahan selama 4 bulan. Dia di berhentikan (interminit) karena kakinya sakit sehingga majikan Yemi memulangkan dia ke Agen. Gaji yang diterima Yemi masih dibawah standar (underpay) HK$ 2000, alasan Perusahaan Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) karena Yemi belum memiliki pengalaman kerja di luar negeri. Gaji Yemi pun dipotong selama 6 bulan sebanyak HK$ 1800 atau setara dengan IDR 2.115.000.

Di Agen, sambil menunggu proses penyembuhan sakitnya, Yemi mencari majikan baru. Setelah dapat majikan baru, Yemi harus keluar dari Hong Kong selama menunggu Visa dan dia tinggal sementara di China. Gaji Yemi di majikan ke dua ini pun masih sama yaitu underpay. Karena Yemi belum selesai potong gaji waktu bekerja di majikan yang pertama, otomatis gaji Yemi harus dipotong lagi. Dari yang awalnya 6 bulan menjadi 9 bulan.

1,5 tahun bekerja di majikan kedua, lagi-lagi Yemi di interminit karena majikan perempuan cemburu terhadap Yemi yang selalu mendapat perlakuan baik dari suaminya.  Yemi kembali pulang ke agen sebelum menyelesaikan kontrak. Setelah menunggu beberapa hari sebelum visanya habis, Yemi mendapat majikan baru kembali untuk ketiga kalinya dan nasib baik mulai menghampiri karena dia digaji sesuai standar (full). Akan tetapi, Yemi tetap harus menikmati potong gaji sebanyak 5 bulan yang setiap bulannya sebesar HK$ 3000.

Pekerjaan Yemi terbilang ringan. Serumah hanya ada majikan perempuan dan anak satu perempuan, sedang majikan laki-laki tinggal di China dan jarang pulang ke Hong Kong. Namun Yemi harus kembali menikmati interminit untuk ketiga kalinya. Karena kedua majikannya bercerai sedangkan  yang tanda tangan kontrak adalah majikan laki-laki dan sudah tidak membutuhkan pekerja lagi.

Yemi kembali pulang ke Agen dan mencari majikan baru. Majikan  baru Yemi dapat, dengan gaji full dan juga libur penuh. Ini adalah tahun ke tiga Yemi bekerja dengan majikan yang keempat. Selain baik, majikan Yemi juga membantu membayar biaya tagihan telepon setiap bulannya. Jarang sekali ada majikan sebaik ini, yang mau membantu membayar tagihan telpon pekerjanya.

Kalau ditotal semuanya, Yemi mengeluarkan uang sekitar IDR 45.000.000 lebih untuk membayar agen mulai dari majikan pertama melalui PJTKI sampai majikan keempat ini dengan perincian :

Majikan pertama : Potong gaji 6  x  HK$1800

Majikan kedua : Potong gaji 3 x HK$ 1800

Majikan ketiga : Potong gaji 5 x HK$ 3000

Majikan keempat : Potong gaji 3 x HK$ 3000

Sekali lagi para pahlawan devisa selalu menjadi daging empuk agen-agen nakal. Para BMI tidak tahu uang tersebut untuk apa saja. Yang mereka inginkan adalah bagaimana mendapatkan majikan kembali setelah diinterminit atau setelah menyelesaikan kontrak.

Tingginya angka potong gaji masih menjadi masalah besar bagi BMI di Hong Kong. Dan sayangnya pejabat yang berwenang seakan angkat tangan dengan hal ini padahal sudah sering kali dibahas namun nyatanya hasilnya masih saja NOL.

2 komentar untuk “Biaya Potong Gaji Masih Tinggi

  1. Emang taik semua orang2 bermata duitan ntah itu agen atau pemerintahan
    Gw sumpahin hidup lo ancur biar ngerasaain susahnya jdi BMI yg mncari uang demi kebutuhan keluarganya di rumah.

    Harusnya 6x potong gaji itu seumur hidup selama BMI mengabdi di negri orang,,,bukannya di peras setelah interminit..

    Anjjiiink emang semua,,gk punya rasa prikemanusiaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.