Cerita dari Desa Beleka “Dari keterasingan menuju Budaya Berkelompok”

Author

Kantor Desa Beleka

Desa Beleka Kecamatan Praya Timur Kabupaten Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat, memiliki luas wilayah kurang lebih 965,85 Ha dengan jumlah penduduk pada tahun 2010 sebanyak 8407 jiwa. sumber mata pencharian penduduknya terbensar dari hasil pertanian dan kerajinan rotan (hendycraft).

Kelompok pengerajin rotan umumnya terdiri dari ibu-ibu rumah tangga dan remaja putri yang selama ini kurang dilibatkan dalam proses perencanaan dan pembangunan baik di tingkat desa sampai kabupaten, padahal hasil anyaman rotan produksi mereka sudah menembus pasar global.

 

Jenis produksi rotan masyarakat Beleka
Jenis produksi rotan masyarakat Beleka

 

1.Memetakan Potensi

Pemetaan potensi desa khususnya dari hasil anyaman rotan ini memang masih kurang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) saja jumlah pengerajin anyaman ini belum tercantum jelas padahal jika dilihat seksama sekema pembangunan ekonomi masyarakat di Beleka dapat dikatakan maju dari hasil anyaman rotan ini maka sudah sepatutnya mendapat apresiasi besar di tingkat pemda kabupaten Lombok Tengah.

Jika dikalkulasi bruto dalam satu rumah tangga saja setiap hari rata-rata produksi hasil anyaman berkisar dari 3-4 hasil kerajinan tangan yang diciptakan. Dan jika dihitung rata rata perhari jika 100 orang saja menganyam dalam sehari maka produksi anyaman di desa Beleka bisa mencapai 300-400 unit dengan beragam hasil produksi anyaman rotan yang diolah menjadi nampan, taplak piring, asbak, dan pernak-pernik rumah tangga lainnya.

 

2. Adanya kesenjangan harga pasar dengan penghasilan pengerajin

Inak Endi (47 th) salah seorang pengerajin rotan sekaligus anggota kelompok Pade Girang yang rata-rata menghasilkan 3-4 anyaman rotan/hari.
Inak Endi (47 tahun) anggota kelompok Pade Girang menghasilkan 3-4 buah anyaman rotan/hari

Akan tetapi dari hasil bincang-bincang dengan pengerajin, kemerosotan permintaan produksi menjadi kendala termasuk akses modal yang masih sangat minim. Para pengerajin yang umumnya terdiri dari ibu-ibu rumah tangga dan anak gadis ini kesulitan dalam mengakses modal, dalam satu dusun ada pengepul yang setiap seminggu sekali mengumpulkan hasil produksi mereka akan tetapi pengepul juga terkadang hanya memberikan akses modal berupa bahan yang hendak di produksi (hanya cetakan kayu untuk menjadi napan, asbak dansebagainya). Sehingga pengerajin harus mengeluarkan modal sendiri untuk membeli ketak (rotan) untuk menjadikannya anyaman.

Harga bahan baku rotan yang semakin tinggi dipasaran terkadang mengurangi hasil produksi mereka, sementara harga jual hasil tetap sama. Untuk satu hasil produksi nanpan piring pengepul menghargakan sebesar Rp.6.500/unit, sementara pengepul nantinya akan menjual ke pemilik Artshop dengan harga berkisar Rp.8000- 10.000/unit.Dan dari pemilik Artshop inilah akses pasar global terfasilitasi. Hasil anyaman mereka dikirim ke artshop-artshop yang ada di Bali.

3. Berkelompok

Pentingnya untuk membentuk kelompok-kelompok pengerajin yang ada di desa mulai terfikirkan, Miatri salah seorang Fasilitator desa Beleka berupaya menghubungkan saya untuk mulai membentuk kelompok-kelompok ini. “Hanya dengan berkelompok, kita bisa berdaya” begitu sambutan sekilasnya saat mengunjungi pengerajin di dusun Embung Monyer desa Beleka, hal ini direspon baik oleh mereka, karena bagi mereka membentuk kelompok mandiri selama ini memang tidak pernah terpikirkan, mereka hanya berjalan sendiri-sendiri.

Diskusi Kelompok penganyam rotan desa Beleka

Padahal jika saja mereka membentuk kelompok mereka bisa mengakses modal,

kemudian belajar banyak tentang dinamika kelompok dan manajemen kelompok mereka.

Hingga pada tanggal 7 Mei 2011 dua kelompok berhasil dibentuk meski dengan struktur yang sederhana yaitu Kelompok Pade Girang dan Kelompok Pade Pasu yang masing-masing terdiri dari 10 orang ibu rumah tangga pengerajin rotan.

Meski berjalan baru seminggu, kelompok ini sudah mulai menunjukkan hasil kearah kemajuan, mereka rutin melakukan diskusi, rata-rata anggota kelompok masih banyak yang buta huruf (untuk sekedar tanda tangan daftar hadir saja mereka masih mencorat coret) akan tetapi tekad mereka kuat bahwa melalui Kelompok inilah nantinya pengentasan buta huruf harus dilakukan(**).

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.