K-Pop dan Calo TKI Korea Selatan

Author

Awas Penipuan TKI
Awas Penipuan TKI

Korean Pop (K-Pop) atau musik pop Korea Selatan banyak digemari oleh anak-anak muda. Tak hanya di Korea Selatan, musik-musik pop Korea menyebar di negara-negara lain, salah satunya  Indonesia. Musik-musik populer Korea mulai masuk ke Indonesia bahkan sudah sejak beberapa tahun lalu.  Tanyakan saja pada anak-anak muda sekarang, siapa tak kenal Super Junior, Big Bang, 2PM, atau PSY.

Indonesia menjadi pasar menggiurkan bagi produsen-produsen dunia, tak terkecuali produsen-produsen di Korea Selatan. Masuknya musik pop Korea dibarengi dengan masuknya film, produk pakaian, gaya rambut  dan bahkan makanan-makanan khas Korea. Banyak kemudian anak-anak muda yang kemudian terbius dan menjadi fans garis keras artis-artis Korea.

Tengok saja konser-konser musik artis asal Korea yang selalu dipadati oleh anak-anak muda, atau penjualan souvenir berbau Korea yang laris manis. Kunjungan turis Indonesia ke Korea Selatan juga meningkat dibandingkan dengan sebelum meledaknya industri K-Pop. Bagi mereka yang memiliki uang, untuk ke negeri gingseng mungkin tak jadi soal. Persoalan terjadi bagi mereka yang ingin ke negeri gingseng tapi tak memiliki uang.

Cara rasional yang dapat ditempuh oleh seorang fans K-Pop yang belum mampu secara finansial untuk pergi ke Korea Selatan adalah dengan menjadi TKI/buruh migran. Atau katakanlah mereka yang berniat migrasi karena kebutuhan ekonomi kemudian memilih Korea karena mengidolakan K-Pop. Iming-iming seperti gaji tinggi, perlindungan ketenagakerjaan yang memadai, atau merasa dekat dengan artis K-Pop idola bisa digunakan oleh calo TKI untuk promosi pada calon TKI.

Mereka yang gelap mata dan minim informasi akan dapat dengan mudah terjebak calo penempatan TKI Korea Selatan. Padahal mekanisme penempatan TKI ke Korea Selatan melalui program Government to Government (G to G). Proses penempatan ini tak mudah, karena calon TKI diseleksi langsung oleh HRD Korea Selatan.

Sebelum ditempatkan mereka harus melewati serangkaian proses pendaftaran, les bahasa bagi yang belum bisa bahasa Korea, mengikuti tes bahasa Korea, mengisi formulir, sending data (KTP, paspor, tes medis, SKCK dsb), mendapat kontrak kerja, menunggu visa, preliminary training, melengkapi dokumen pemberangkatan dan baru diberangkatkan.

Proses panjang tersebut memakan banyak waktu dan masih ditambahi dengan ketidakpastian calon BMI tidak lolos seleksi HRD Korea Selatan. Nusron Wahid, Kepala BNP2TKI dalam wawancara di sebuah media massa online bahkan mengatakan jika BNP2TKI tak bisa menjamin penempatan TKI ke Korea Selatan. Buruh migran yang berada di sana juga menghabiskan banyak uang untuk penempatan dari proses awal sampai akhir pemberangkatan.

Calon buruh migran atau masyarakat awam yang tertarik menjadi TKI Korea Selatan sebaiknya jangan mudah tergiur dengan bujuk rayu calo. Jangan juga percaya dengan janji lembaga kursus bahasa Korea yang katanya bisa menempatkan TKI Korea. Jika mereka memberi iming-iming bekerja ke Korea, segera hubungi BP3TKI/Disnaker setempat untuk mengecek kebenaran adanya lowongan pekerjaan ke Korea.

Jika calon BMI Korea tergiur dengan iming-iming mereka, bukan tak mungkin calon BMI akan tertipu. Modus penipuan perekrutan dengan memberi iming-iming penempatan ke Korea, tetapi ternyata hanya ditempatkan di Malaysia bisa saja terjadi. Penipuan penempatan buruh migran bisa terjadi dimana saja, di desa atau pun di kota-kota besar, jika calon buruh migran minim informasi.

Peran guru-guru sekolah dalam mensosialisasikan penempatan buruh migran bisa menjadi salah satu garda depan agar anak-anak muda yang ingin bermigrasi bisa aman dan selamat. Guru-guru dapat mensosialisasikan pada remaja-remaja—penggemar K-Pop—bahwa penempatan buruh migran ke Korea Selatan tak mudah dan jangan terbujuk pada calo-calo yang memberi iming-iming palsu.

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *