Kesenjangan Informasi dan Ketidakberdayaan Buruh Migran

Author

Kesenjangan informasi bisa menjadi sebab dan akibat dari kesenjangan lainnya. Miskinnya informasi yang dimiliki TKI, seperti prosedur, hukum, dan budaya negara yang akan dituju menyebabkan TKI kesulitan mengembangkan alternatif dan solusi saat menghadapi masalah. Terlebih, umumnya TKI berprofesi sebagai pembantu rumah tangga (house keeper, baby sitter), hidup terisolir dalam rumah majikan dan tidak memiliki kesempatan atau kemampuan akses terhadap dunia luar.

Selanjutnya, pesatnya perkembangan TIK, pada satu sisi, semakin memperbesar kesenjangan informasi bagi kalangan TKI. Dinamika informasi yang cepat menimbulkan jarak yang jelas antara kalangan yang memiliki akses yang kuat dan kalangan yang tidak memiliki peluang akses. Lemahnya akses dan pemanfaatan informasi suatu komunitas menyebabkan komunitas tersebut terpinggirkan dan menjadi korban dari berbagai kemajuan. Situasi Inilah yang disebut dengan kesenjangan digital (digital devide).

Kalangan TKI merupakan kalangan yang terpinggirkan dalam situasi di atas. Kesenjangan informasi bukan saja mengakibatkan kemiskinan ekonomi, tapi juga kemiskinan sosial politik. TKI tidak dapat menyampaikan aspirasi serta tidak mengetahui adanya kebijakan yang berdampak kepada mereka. TKI juga tidak cukup paham untuk bisa terlibat dalam pengambilan keputusan sehingga muncul diskriminasi dan dominasi atas mereka.

Bagaimana mengurangi kesenjangan informasi di kalangan buruh migran? Perubahan yang cepat di berbagai bidang mesti dijawab dengan kemampuan menghadapi perubahan. TKI dan keluarganya sejatinya membutuhkan informasi dan pengetahuan yang dapat mereka manfaatkan untuk meningkatkan kualitas hidupnya, baik aspek kesehatan, sosial, hukum, budaya, ekonomi, lingkungan dan lain sebagainya. TKI dan keluarganya mampu menghadapi perubahan bila mereka mampu mengakses informasi secara cerdas dan kritis serta berinteraksi dengan pihak lain.

Mahnetik dan Saluran Informasi TKI

Rumah Internet TKI (Mahnetik) hadir di perdesaan yang sebagian besar menjadi daerah asal buruh migran. Pada masyarakat perdesaan, beragam saluran informasi dan media komunikasi dikembangkan untuk pertukaran informasi, misalnya obrolan di pos ronda, warung kopi,arisan, pengajian, perkumpulan pemuda, dan lain-lain. Pertanyaannya apakah saluran, media, dan forum tersebut dapat didayagunakan untuk mengatasi kesenjangan infomasi yang terjadi?

Kebanyakan saluran, media, dan forum di perdesaan bersifat interpersonal (tatap mula,lisan). Mahnetik berusaha mengisi celah yang kosong yaitu budaya komunikasi dan berbagi informasi bisa dikembangkan lagi secara lebih terbuka dan partisipatif. Di sinilah peran penting Mahnetik, yaitu penguatan kapasitas dan penguasan informasi bagi TKI, calon TKI, dan keluarganya. Akhirnya, TKi dan keluarganya mampu menggunakan hak-haknya, lebih berdaya, percaya diri, dan memiliki kemampuan untuk berpartisipasi.

Untuk mewujudkan gagasan di atas, Mahnetik Cilacap membuat sebuah fasilitas publik yang disebut Pusat Teknologi Informasi (IT Center). Pusat Teknologi Informasi adalah suatu layanan publik yang memanfaatkan TIK agar para keluarga buruh migran dapat mengakses informasi dan pengetahuan yang mendukung pengembangan diri dan perbaikan layanan pemerintah atas TKI. Namun, Mahnetik tidak semata-mata program mendirikan sarana fisik untuk akses informasi semata (IT Center) tapi dukungan program pendampingan dan pemberdayaan masyarakat sehingga TIK merangsang tumbuhnya infomobilisasi.

Mahnetik Timbulkan Infomobilisasi

Apa itu infomobilisasi? Infomobilisasi adalah kegiatan penyampaian dan penggunanan komunikasi-informasi secara terencana berdasarkan kebutuhan TKI dan keluarganya. Infomobiliasai dikembangkan sebagai rangkaian kegiatan yang melibatkan TKI dan keluarganya dalam berbagai tahapannya. Ada beberapa kegiatan yang penting untuk menciptakan infomobiliasi, yaitu:

Pertama, membangun kesadaran pada TKI dan keluarganya bahwa kesenjangan informasi mengakibatkan kesenjangan di bidang kehidupan lainnya. Hal ini dapat dilakukan dengan mengembangkan kegiatan keberaksaraan informasi (information literacy) sehingga TKI dan keluarganya mampu secara cerdas menggunakan informasi untuk mendukung kehidupannya.

Kedua, mengembangkan kegiatan penyampaian dan penggunakan komunikasi-informasi yang terencana dengan baik sesuai dengan kebutuhan TKI dan keluarganya. Melalui pendekatan komunikasi yang dialogis dan partisipatoris TKI dan keluarganya belajar memetakan permasalahan-permaalahan yang mereka hadapi dan apa dampaknya bagi mereka. Lalu mereka merancang solusi yang tepat untuk terhindar dari permasalahan tersebut.

Ketiga, meningkatkan kapasitas TKI dan keluarganya dengan menggunakan TIK. Sebagian besar warga masih gagap berhadapan teknologi (gaptek) sehingga salah satu program Mahnetik adalah menyelenggarakan pelatihan menggunakan internet pada TKI dan keluarganya. Setelah pelatihan mereka bisa menggunakan fasilitas instant messenger untuk chatting, menggunakan browser untuk mencari informasi yang dibutuhkan, surat-menyurat elektronik (e-mail), dan mengelola situs untuk saling berbagi informasi.

Keempat, mengembangkan jaringan kerjasama dan solidaritas dengan individu atau lembaga dengan pemanfaatan TIK untuk menjembatani jarak dan waktu. Kerjasama dan solidaritas penting sebagai kekuatan mempengaruhi kebijakan publik yang menyangkut masalah perbaikan layanan bagi TKI dan keluarganya.

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.