{"id":27415,"date":"2021-12-19T18:57:17","date_gmt":"2021-12-19T11:57:17","guid":{"rendered":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/?p=27415"},"modified":"2021-12-22T19:04:46","modified_gmt":"2021-12-22T12:04:46","slug":"jebakan-ilegalitas-dalam-migrasi-pekerja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/2021\/12\/19\/jebakan-ilegalitas-dalam-migrasi-pekerja\/","title":{"rendered":"(Bahasa Indonesia) Jebakan (I)legalitas dalam Migrasi Pekerja"},"content":{"rendered":"<p class=\"qtranxs-available-languages-message qtranxs-available-languages-message-en\">Sorry, this entry is only available in <a href=\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27415\" class=\"qtranxs-available-language-link qtranxs-available-language-link-id\" title=\"Bahasa Indonesia\">Bahasa Indonesia<\/a>.<\/p><p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbagai pemangku kepentingan (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">stakeholders<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) dalam migrasi pekerja transnasional tak henti-hentinya berdebat untuk menemukan formula \u2018pelindungan\u2019 yang terbaik. Salah satu pendapat yang mengemuka adalah\u2014pendapat ini biasanya juga diamini oleh lembaga supranasional Perserikatan Bangsa-Bangsa\u2014migrasi yang aman adalah migrasi yang prosedural. Istilah prosedural ini tentu saja mudah ditebak: migrasi yang prosesnya mengindahkan aturan-aturan, baik yang ditetapkan oleh negara-negara, ataupun perusahaan pengguna ataupun perekrutan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Diangkatnya pendapat ini memiliki dampak yang cukup dilematis dalam perkembangan manajemen dan rezim migrasi internasional. Pertama, perangkat dan alat untuk melindungi pekerja migran menjadi terkonsentrasi pada mereka yang berangkat secara prosedural, atau juga kerap kali disebut sebagai migrasi reguler. Padahal, pekerja yang dengan sengaja ataupun tidak sengaja tergolong sebagai pekerja non-prosedural menghadapi kerentanan yang lebih berat ketimbang mereka yang berangkat secara reguler.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, peraturan perundangan-undangan yang mengatur migrasi baik dari negara pengirim ataupun penerima terus mengalami perubahan. Seringkali peraturan-peraturan turunan tidak kunjung dibuat sekalipun undang-undang telah diperbaharui. Kondisi ini menciptakan yang disebut oleh Itty<\/span><a href=\"https:\/\/books.google.co.id\/books\/about\/Illicit_Flows_and_Criminal_Things.html?id=FTJhFP1FK1wC&amp;source=kp_book_description&amp;redir_esc=y\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Abraham dan Willem van Schendel (2005)<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> sebagai \u2018defisiensi implementasi\u2019. Sayangnya, ketika fasilitator migrasi \u2013 termasuk pemerintah \u2013 menjalankan aturan migrasi tanpa merujuk pada undang-undang yang baru, tindakan mereka jarang dikategorikan sebagai bentuk \u2018fasilitasi non-prosedural\u2019. Sementara itu, ketika pekerja migran mengikuti proses migrasi yang tak sesuai prosedur, maka mereka disebut sebagai pekerja non-prosedural atau non-reguler.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Temuan saya dalam berbagai riset lapangan menunjukkan bahwa ada dua bentuk \u2018fasilitasi non-prosedural\u2019. Pertama, fasilitator migrasi, terdiri dari aparatur pemerintah dan perusahaan perekrut (P3MI), secara tidak disengaja tidak memahami konten dan maksud dari undang-undang. Hal ini mungkin saja disebabkan oleh kurangnya sosialisasi atas aturan-aturan baru dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. Kedua, fasilitator secara sengaja menilai bahwa aturan baru belum memiliki instrumen yang cukup, sehingga mereka memilih untuk merujuk pada aturan lama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika fasilitator memiliki hambatan untuk memahami dan mengimplementasikan peraturan perundang-undangan, mengapa pekerja migran dan pencari kerja dituntut untuk selalu taat prosedur? Perlu kita ingat bahwa tidak semua pekerja migran memiliki pengetahuan dan kemampuan berpikir strategis yang cukup \u2013 saya tidak mengatakan \u2018tingkat pendidikan\u2019 karena belum tentu orang berpendidikan tinggi juga mampu berpikir. Materi-materi sadar hukum yang disajikan oleh BP2MI dalam \u2018Pembekalan Akhir Pemberangkatan\u2019, misalnya, menyerupai materi perkuliahan hukum tata negara. Mahasiswa saja tidak semua mendapatkan \u201cB\u201d saat berkuliah, apalagi pekerja migran yang hidupnya bukan untuk bersekolah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh yang kerap kali muncul adalah perihal rekrutmen pekerja. Undang-Undang 18\/2017 tentang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia memiliki spirit untuk mengedepankan unsur kemandirian dari pihak pencari kerja. Harapannya, para pencari kerja yang telah memiliki sertifikat kecakapan dan keterampilan datang secara mandiri untuk mendaftar sebagai pekerja migran. Dalam praktiknya, hal ini cukup sulit terlaksana karena, pertama, struktur rekrutmen lama yang sudah mendarah daging. Di banyak desa, informasi tersimpan dan didominasi oleh struktur rekrutmen lama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, calon pekerja tidak cakap dalam memanfaatkan informasi yang beredar secara daring (meski banyak juga instansi yang tak meng-<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">update <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">laman informasi mereka). Sebagai hasil, mereka tak mengetahui prosedur rekrutmen dan penempatan yang sesuai dengan peraturan. Biasanya, hal terbaik yang mereka ketahui hanyalah para fasilitatornya. Sayangnya, para fasilitator ini pun adalah para perekrut informal seperti calo, ataupun para sponsor.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bisa dibayangkan jika sistem yang baru ini diterapkan, maka akan banyak perekrut informal, yang selama ini dominan, akan kehilangan pekerjaan. Faktanya, kehadiran mereka masih menjadi andalan bagi banyak P3MI dan para pencari kerja.<\/span><\/p>\n<p><b>Menilik kembali (i)legalitas<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Literatur mengenai konsep \u2018non-prosedural\u2019 atau disebut juga \u2018ilegalitas\u2019 dalam studi migrasi telah berkembang sejak lama. Untuk mendiskusikan persoalan legalitas, peneliti berangkat dengan menaruh keraguan terhadap <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">apa itu \u2018legal\u2019 dan \u2018illegal\u2019<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Meski pertanyaan ini terkesan memiliki jawaban yang cukup jelas, namun pada praktiknya pertanyaan ini menjadi kompleks ketika ditilik dari kacamata pekerja migran.<\/span><a href=\"https:\/\/www.annualreviews.org\/doi\/abs\/10.1146\/annurev.anthro.31.040402.085432?casa_token=jKjhidUTU8oAAAAA:3fWzd4sGfKdeZW4-462MYiPWPeIPoE4r7JlWS03DiwBlk8TJEy60Mx_isGv5bMR28SjnJoFdd2mMu8U\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Nicholas de Genova (2002)<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> dua dekade silam berpendapat, dan saya bersepakat dengannya, bahwa \u2018ilegalitas\u2019 adalah identitas politik yang disematkan kepada migran oleh mereka yang menggunakan kacamata birokrasi pemerintahan. Ada keputusan politik yang mendefinisikan rasa \u2018suka\u2019 atau \u2018tak suka\u2019 terhadap pendatang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam kerangka berpikir itu, pekerja migran yang melintasi batas negara dengan tanpa melalui prosedur formal kemudian disebut dengan pekerja tak berdokumen. Dalam pendapat saya, ini adalah tindakan diskriminatif dan kastanisasi terhadap prinsip legalitas. Jika kita tilik lebih lanjut, mereka yang bermigrasi tentu memiliki kewarganegaraan yang sah (kecuali beberapa kasus kompleks seperti anak pekerja migran atau pengungsi). Nampak lucu ketika kita menyematkan predikat \u2018ilegal\u2019 kepada mereka yang menyandang kewarganegaraan sah, baik melekat ke negara asal ataupun tujuan migrasi. Dengan kata lain, tak ada migran yang ilegal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam kacamata bikrorasi pun, definisi formal mengenai ilegalitas mengalami kecacatan proses berpikir. Dalam studi lapangan yang saya lakukan di Malaysia dan Indonesia antara tahun 2015 dan 2019, warga negara Indonesia yang menyandang status tak berdokumen tak jarang adalah mereka yang telah berangkat dan bekerja mengikuti prosedur formal. Dalam rilisnya, Federasi Pekerja Domestik Internasional menjelaskan sedikitnya ada<\/span><a href=\"https:\/\/idwfed.org\/en\/updates\/malaysia-response-from-migrant-worker-communities-and-migrant-rights2019-civil-society-organizations-with-regards-to-ongoing-raids-on-undocumented-migrants\"> <span style=\"font-weight: 400;\">sembilan alasan<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> pekerja migran dapat tergelincir menjadi pekerja tak berdokumen. Dengan demikian benarlah hipotesis de Genova bahwa penyematan \u201cIlegal\u201d atau \u201cnon-prosedural\u201d mendampingi kata \u201cmigran\u201d adalah konsensus politik yang tumbuh di kalangan mereka yang berkutat dengan sistem formal \u2018negara-bangsa\u2019, bukan migran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Persoalan legalitas adalah persoalan politik yang seringkali terpisah dengan prinsip hak asasi manusia ataupun akses terhadap hak-hak dasar. Oleh karenanya pendekatan ini tak semestinya menjadi andalan untuk menghadirkan formula perlindungan yang mutakhir. Dengan demikian, tulisan ini tak berarti membenarkan dua hal. Pertama, tak berarti tulisan ini mendorong pencari kerja untuk melakukan migrasi non-prosedural. Kedua, pemahaman baru tentang \u2018ilegalitas\u2019 tak semestinya menghentikan langkah para pemangku kepentingan untuk memperkuat mekanisme dan alat perlindungan bagi pekerja prosedural.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan pemahaman baru ini, saya berharap pemangku kepentingan mulai berpikir untuk juga mendesain cetak-biru pelindungan yang tidak terkungkung dalam kerangka berpikir dualistik \u2018legal\u2019 dan \u2018illegal\u2019. Sekalipun istilah ini mengalami eufemisme menjadi \u2018prosedural\/non-prosedural\u2019, \u2018berdokumen\/tak-berdokumen\u2019, tetap saja kita perlu meninggalkan pemikiran dualistik dan fatalistik ini. Sudah saatnya para pemangku kepentingan seperti pemerintah, kelompok masyarakat sipil, perekrut swasta, dan pekerja duduk bersama dan dengan kepala dingin memahami persoalan migrasi dengan lebih jernih.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pamungkas A. Dewanto (Yudha),\u00a0<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kandidat Doktor bidang Antropologi Sosial, Vrije Universiteit Amsterdam. Tulisannya mengenai pelindungan pekerja migran Indonesia terbit pada<\/span><\/i><a href=\"https:\/\/brill.com\/view\/journals\/bki\/176\/4\/article-p504_4.xml?language=en\"> <i><span style=\"font-weight: 400;\">Journal of the Humanities and Social Science in Southeast Asia<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/i><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p class=\"qtranxs-available-languages-message qtranxs-available-languages-message-en\">Sorry, this entry is only available in <a href=\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27415\" class=\"qtranxs-available-language-link qtranxs-available-language-link-id\" title=\"Bahasa Indonesia\">Bahasa Indonesia<\/a>.<\/p>\n<p>Berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) dalam migrasi pekerja transnasional tak henti-hentinya berdebat untuk menemukan formula \u2018pelindungan\u2019 yang terbaik. Salah satu pendapat yang mengemuka adalah\u2014pendapat ini biasanya juga diamini oleh lembaga supranasional Perserikatan Bangsa-Bangsa\u2014migrasi yang aman adalah migrasi yang prosedural. Istilah prosedural ini tentu saja mudah ditebak: migrasi yang prosesnya mengindahkan aturan-aturan, baik yang ditetapkan oleh negara-negara, ataupun perusahaan pengguna ataupun perekrutan.<\/p>\n","protected":false},"author":701,"featured_media":27416,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[869],"tags":[230,5421,371,1588,3269,3308],"class_list":["post-27415","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini","tag-ilegal","tag-ilegalitas","tag-legal","tag-migrasi","tag-pekerja-migran","tag-pekerja-migran-indonesia"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v25.8 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>(Bahasa Indonesia) Jebakan (I)legalitas dalam Migrasi Pekerja  - Pusat Sumber Daya Buruh Migran<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Konsep legal dan ilegal dalam konteks migrasi internasional merupakan hal lama yang sampai saat ini diperdebatkan.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/2021\/12\/19\/jebakan-ilegalitas-dalam-migrasi-pekerja\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"(Bahasa Indonesia) Jebakan (I)legalitas dalam Migrasi Pekerja  - Pusat Sumber Daya Buruh Migran\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Konsep legal dan ilegal dalam konteks migrasi internasional merupakan hal lama yang sampai saat ini diperdebatkan.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/2021\/12\/19\/jebakan-ilegalitas-dalam-migrasi-pekerja\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Pusat Sumber Daya Buruh Migran\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2021-12-19T11:57:17+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2021-12-22T12:04:46+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/legal-g8af686dff_640.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"640\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"426\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Dewanto Pamungkas\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Dewanto Pamungkas\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/2021\/12\/19\/jebakan-ilegalitas-dalam-migrasi-pekerja\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/2021\/12\/19\/jebakan-ilegalitas-dalam-migrasi-pekerja\/\"},\"author\":{\"name\":\"Dewanto Pamungkas\",\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#\/schema\/person\/cfb910fb29ab8945a87f2f21868b8263\"},\"headline\":\"(Bahasa Indonesia) Jebakan (I)legalitas dalam Migrasi Pekerja\",\"datePublished\":\"2021-12-19T11:57:17+00:00\",\"dateModified\":\"2021-12-22T12:04:46+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/2021\/12\/19\/jebakan-ilegalitas-dalam-migrasi-pekerja\/\"},\"wordCount\":987,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/2021\/12\/19\/jebakan-ilegalitas-dalam-migrasi-pekerja\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/legal-g8af686dff_640.jpg\",\"keywords\":[\"Ilegal\",\"ilegalitas\",\"Legal\",\"Migrasi\",\"pekerja migran\",\"Pekerja Migran Indonesia\"],\"articleSection\":[\"Opinion\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/2021\/12\/19\/jebakan-ilegalitas-dalam-migrasi-pekerja\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/2021\/12\/19\/jebakan-ilegalitas-dalam-migrasi-pekerja\/\",\"url\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/2021\/12\/19\/jebakan-ilegalitas-dalam-migrasi-pekerja\/\",\"name\":\"[:id]Jebakan (I)legalitas dalam Migrasi Pekerja [:] - Pusat Sumber Daya Buruh Migran\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/2021\/12\/19\/jebakan-ilegalitas-dalam-migrasi-pekerja\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/2021\/12\/19\/jebakan-ilegalitas-dalam-migrasi-pekerja\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/legal-g8af686dff_640.jpg\",\"datePublished\":\"2021-12-19T11:57:17+00:00\",\"dateModified\":\"2021-12-22T12:04:46+00:00\",\"description\":\"Konsep legal dan ilegal dalam konteks migrasi internasional merupakan hal lama yang sampai saat ini diperdebatkan.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/2021\/12\/19\/jebakan-ilegalitas-dalam-migrasi-pekerja\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/2021\/12\/19\/jebakan-ilegalitas-dalam-migrasi-pekerja\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/2021\/12\/19\/jebakan-ilegalitas-dalam-migrasi-pekerja\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/legal-g8af686dff_640.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/legal-g8af686dff_640.jpg\",\"width\":640,\"height\":426,\"caption\":\"Sumber gambar: Image by Fathromi Ramdlon di Pixabay\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/2021\/12\/19\/jebakan-ilegalitas-dalam-migrasi-pekerja\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"(Bahasa Indonesia) Jebakan (I)legalitas dalam Migrasi Pekerja\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/\",\"name\":\"Pusat Sumber Daya Buruh Migran\",\"description\":\"Rujukan Informasi Tenaga Kerja Indonesia ( TKI ) - Saling Belajar, Berbagi, dan Melindungi\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#organization\",\"name\":\"Pusat Sumber Daya Buruh Migran\",\"url\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/logo-psdbm-color.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/logo-psdbm-color.png\",\"width\":80,\"height\":80,\"caption\":\"Pusat Sumber Daya Buruh Migran\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#\/schema\/logo\/image\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#\/schema\/person\/cfb910fb29ab8945a87f2f21868b8263\",\"name\":\"Dewanto Pamungkas\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/6b2daf202ce006539b4e19d56a30cb8cca89708a1724ea5721638649cb635c81?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/6b2daf202ce006539b4e19d56a30cb8cca89708a1724ea5721638649cb635c81?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Dewanto Pamungkas\"},\"url\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/author\/dewanto-ayudhaning-pamungkas\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"(Bahasa Indonesia) Jebakan (I)legalitas dalam Migrasi Pekerja  - Pusat Sumber Daya Buruh Migran","description":"Konsep legal dan ilegal dalam konteks migrasi internasional merupakan hal lama yang sampai saat ini diperdebatkan.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/2021\/12\/19\/jebakan-ilegalitas-dalam-migrasi-pekerja\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"(Bahasa Indonesia) Jebakan (I)legalitas dalam Migrasi Pekerja  - Pusat Sumber Daya Buruh Migran","og_description":"Konsep legal dan ilegal dalam konteks migrasi internasional merupakan hal lama yang sampai saat ini diperdebatkan.","og_url":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/2021\/12\/19\/jebakan-ilegalitas-dalam-migrasi-pekerja\/","og_site_name":"Pusat Sumber Daya Buruh Migran","article_published_time":"2021-12-19T11:57:17+00:00","article_modified_time":"2021-12-22T12:04:46+00:00","og_image":[{"width":640,"height":426,"url":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/legal-g8af686dff_640.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Dewanto Pamungkas","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Dewanto Pamungkas","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/2021\/12\/19\/jebakan-ilegalitas-dalam-migrasi-pekerja\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/2021\/12\/19\/jebakan-ilegalitas-dalam-migrasi-pekerja\/"},"author":{"name":"Dewanto Pamungkas","@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#\/schema\/person\/cfb910fb29ab8945a87f2f21868b8263"},"headline":"(Bahasa Indonesia) Jebakan (I)legalitas dalam Migrasi Pekerja","datePublished":"2021-12-19T11:57:17+00:00","dateModified":"2021-12-22T12:04:46+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/2021\/12\/19\/jebakan-ilegalitas-dalam-migrasi-pekerja\/"},"wordCount":987,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/2021\/12\/19\/jebakan-ilegalitas-dalam-migrasi-pekerja\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/legal-g8af686dff_640.jpg","keywords":["Ilegal","ilegalitas","Legal","Migrasi","pekerja migran","Pekerja Migran Indonesia"],"articleSection":["Opinion"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/2021\/12\/19\/jebakan-ilegalitas-dalam-migrasi-pekerja\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/2021\/12\/19\/jebakan-ilegalitas-dalam-migrasi-pekerja\/","url":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/2021\/12\/19\/jebakan-ilegalitas-dalam-migrasi-pekerja\/","name":"[:id]Jebakan (I)legalitas dalam Migrasi Pekerja [:] - Pusat Sumber Daya Buruh Migran","isPartOf":{"@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/2021\/12\/19\/jebakan-ilegalitas-dalam-migrasi-pekerja\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/2021\/12\/19\/jebakan-ilegalitas-dalam-migrasi-pekerja\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/legal-g8af686dff_640.jpg","datePublished":"2021-12-19T11:57:17+00:00","dateModified":"2021-12-22T12:04:46+00:00","description":"Konsep legal dan ilegal dalam konteks migrasi internasional merupakan hal lama yang sampai saat ini diperdebatkan.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/2021\/12\/19\/jebakan-ilegalitas-dalam-migrasi-pekerja\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/2021\/12\/19\/jebakan-ilegalitas-dalam-migrasi-pekerja\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/2021\/12\/19\/jebakan-ilegalitas-dalam-migrasi-pekerja\/#primaryimage","url":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/legal-g8af686dff_640.jpg","contentUrl":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/legal-g8af686dff_640.jpg","width":640,"height":426,"caption":"Sumber gambar: Image by Fathromi Ramdlon di Pixabay"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/2021\/12\/19\/jebakan-ilegalitas-dalam-migrasi-pekerja\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"(Bahasa Indonesia) Jebakan (I)legalitas dalam Migrasi Pekerja"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#website","url":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/","name":"Pusat Sumber Daya Buruh Migran","description":"Rujukan Informasi Tenaga Kerja Indonesia ( TKI ) - Saling Belajar, Berbagi, dan Melindungi","publisher":{"@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#organization","name":"Pusat Sumber Daya Buruh Migran","url":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/logo-psdbm-color.png","contentUrl":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/logo-psdbm-color.png","width":80,"height":80,"caption":"Pusat Sumber Daya Buruh Migran"},"image":{"@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#\/schema\/person\/cfb910fb29ab8945a87f2f21868b8263","name":"Dewanto Pamungkas","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/6b2daf202ce006539b4e19d56a30cb8cca89708a1724ea5721638649cb635c81?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/6b2daf202ce006539b4e19d56a30cb8cca89708a1724ea5721638649cb635c81?s=96&d=mm&r=g","caption":"Dewanto Pamungkas"},"url":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/author\/dewanto-ayudhaning-pamungkas\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27415","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/701"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27415"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27415\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":27417,"href":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27415\/revisions\/27417"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27416"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27415"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27415"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27415"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}