{"id":26029,"date":"2019-07-18T15:32:55","date_gmt":"2019-07-18T08:32:55","guid":{"rendered":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/?p=26029"},"modified":"2019-07-18T15:32:55","modified_gmt":"2019-07-18T08:32:55","slug":"sejarah-desa-nongkodono","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/2019\/07\/18\/sejarah-desa-nongkodono\/","title":{"rendered":"(Bahasa Indonesia) Sejarah Desa Nongkodono"},"content":{"rendered":"<p class=\"qtranxs-available-languages-message qtranxs-available-languages-message-en\">Sorry, this entry is only available in <a href=\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26029\" class=\"qtranxs-available-language-link qtranxs-available-language-link-id\" title=\"Bahasa Indonesia\">Bahasa Indonesia<\/a>.<\/p><p>&nbsp;<\/p>\n<figure id=\"attachment_26030\" aria-describedby=\"caption-attachment-26030\" style=\"width: 300px\" class=\"wp-caption alignleft\"><a href=\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/sejarah-desa-nongkodono.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-26030 size-medium\" src=\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/sejarah-desa-nongkodono-300x215.png\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"215\" srcset=\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/sejarah-desa-nongkodono-300x215.png 300w, https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/sejarah-desa-nongkodono.png 625w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-26030\" class=\"wp-caption-text\">(Keterangan foto: Warga berpose di depan Balai Desa Nongkodono)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konon berdasarkan cerita para sesepuh dan buku Kumpulan Sejarah Desa Tahun 1946 se-kecamatan Kauman, dikisahkan bahwa Desa Nongkodono awalnya berupa hutan yang lebat. Orang yang pertama kali membuka hutan tersebut\u00a0 adalah Mbah Kruwet. Selanjutnya diikuti oleh Mbah Suto.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mbah Kruwet merupakan orang sepuh, asal muasal dipanggil mbah kruwet juga cukup unik. Mbah kruwet memiliki postur tubuh yang kurus, orang Jawa menyebutnya \u2018kuru\u2019. Selain itu, mbah Kruwet juga berumur panjang atau dalam bahasa jawa dipanggil \u2018awet\u2019. Gabungan dari kuru dan awet tersebut menjadi \u201ckruwet\u2019. Nama itulah yang menjadi nama panggilan orang yang telah membuka hutan pertama kali untuk menjadi desa Nongkodono.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>Asal Kata dari Buah \u201cNongko\u201d<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mbah Kruwet memiliki tanaman buah Nangka, orang Jawa menyebutnya \u2018Nongko\u2019. Tanamannya sangat lebat dan berbuah besar-besar.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada suatu hari, Ratu Sinuhun Paku Buwono datang ke rumah Mbak Kruwet. Mbah Kruwet sendiri belum tahu jika yang bertamu ke rumahnya merupakan seorang\u00a0 ratu. Mbah Kruwet menghidangkan buah Nangka dan mempersilahkan untuk menikmati hidangan yang disajikan kepada tamunya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mbah Suto yang tahu kalau di rumah mbak Kruwet sedang ada tamu, ia ikut menemui tamu tersebut dan memberikan hidangan yang sama, yaitu buah Nangka.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ratu Sinuhun Paku Buwono bertanya kepada mbah Kruwet, \u201cPak, Nangka ini kamu jual atau hanya diberikan saja?\u201d tanyanya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTidak pernah saya jual, saya hanya berikan kepada siapa saja yang mau makan,\u201d jawab Mbah Kruwet.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaan yang sama juga turut dilontarkan kepada mbah Suto, namun jawaban mbah Suto\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">berbeda.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSebagian saya makan, lainnya saya jual,\u201d jawab mbah Suto.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau buah Nangka kamu berikan (dalam bahasa Jawa dono\/weneh), maka buah akan semakin lebat dan umurnya panjang, tetapi kalau kamu jual, maka buah nangka tidak berbuah dan pohonnya akan mati perlahan-lahan,\u201d kata Ratu Sinuhun Paku Buwono.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa yang diucapkan oleh Ratu Sinuhun Paku Buwono ternyata benar, beberapa tahun kemudian, pohon\u00a0 buah nangka milik Mbah Kruwet berbuah lebat dan besar-besar, sementara pohon buah Nangka Mbah Suto jatuh berguguran dan secara perlahan mati. Dari kata Nangka (Nongko) dan Memberi (Dono) maka tercetuslah nama Nongkodono.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Desa Nongkodono terbagi dalam beberapa dusun, yaitu:\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Gilang<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Disebut dukuh atau dusun Gilang disebabkan karena di dusun ini terdapat peninggalan sejarah yang sampai sekarang masih ada, yaitu batu Gilang. Konon, apabila ada binatang atau sesuatu terbang di atas lempengan batu itu, sesuatu itu akan jatuh. Dengan adanya batu tersebut, nama Gilang diabadikan sampai sekarang menjadi dukuh Gilang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, di dukuh ini terdapat pekuburan umum tempat para sesepuh desa yang membuka desa pertama kali dimakamkan, ada Eyang Suto Wedono dan beberapa sahabatnya. Ada juga makam kepala desa yang pernah menjabat di Nongkodono.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di dukuh Gilang juga terdapat Jeron Gebyok, yakni lahan petilasan atau bekas tempat tinggal Eyang Suto Wedono. Disebut Jeron Gebyok karena jalan menuju rumah itu panjang dalam bahasa Jawa, disebut Jeru dan dinding rumahnya terbuat dari papan atau gebyok.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada juga Sarpon atau Pasar Pon. Konon, Gerumbul yang ada di pojok desa adalah pasar. Pasar tersebut memiliki aktivitas satu kali setiap lima hari, yaitu setiap hari Pon (hitungan hari Jawa). Gerumbulan tersebut sebagai pintu gerbang masuk desa dan sekarang dipindah ke Condong atau pasar Condong, sementara wilayah Sarpon sekarang dibangun Polindes dan rencana ke depannya akan dibangun taman desa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> Dusun Krajan<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Krajan merupakan pusat pemerintahan, maka dinamakan Krajan atau tempat kerajaan. Wilayah dusun Krajan terbagi dua, yaitu Prigi dan Condong.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Asal muasal daerah Prigi belum diketahui secara jelas. Namun, di daerah tersebut terdapat\u00a0 peninggalan sumur tua yang terletak di pinggir jalan. Konon, siapa saja yang mengambil air di sumur tersebut dan digunakan untuk mandi, maka bisa awet muda.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara daerah Condong bermakna senang atau suka. Dulu di daerah tersebut terdapat sebuah jembatan yang bernama Petung, karena digunakan sebagai tempat bertemunya orang dari berbagai daerah untuk transaksi jual beli, lalu pada tahun 1960 dibuatkan lokasi pasar Condong. Selanjutnya pasar Pon dijadikan satu di pasar Condong.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> Dusun Candi<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di namai dusun Candi disebabkan karena di tempat ini terdapat sebuah gundukan batu bata merah. Tumpukan batu tersebut sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Sejak zaman kerajaan majapahit dan dijadikan sebagai tempat ibadah atau pemujaan. Oleh sebab itu, dusun tersebut dinamai dusun Candi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di dusun Candi juga terdapat makam tua yang bernama makam Karang. Disebut makam Karang karena pohon yang ditanam dan tumbuh di area makam tersebut pasti mati atau dalam bahasa jawa disebut \u2018Ngarang\u2019.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, dusun Candi dikenal juga dengan daerah Genjahan. Dulu, tempat tersebut menjadi langganan banjir karena terletak bersebelahan dengan sungai Bedah dan airnya selalu menggenangi tempat tersebut. Hal itu membuat masyarakat sekitar selalu terfikir, bagaimana caranya menanam tanaman yang cepat panen sebelum tergenang air. Ditemukanlah tanaman Genjah (cepat panen), sehingga masyarakat menanam tanaman genjah dan istilah tersebut digunakan untuk menyebut wilayah Genjahan<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artikel ini dikutip\u00a0 dari website: www.nongkodono.com<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sorry, this entry is only available in Bahasa Indonesia.&nbsp; Konon berdasarkan cerita para sesepuh dan buku Kumpulan Sejarah Desa Tahun 1946 se-kecamatan Kauman, dikisahkan bahwa Desa Nongkodono awalnya berupa hutan yang lebat. Orang yang pertama kali membuka hutan tersebut\u00a0 adalah Mbah Kruwet. Selanjutnya diikuti oleh Mbah Suto.\u00a0 &nbsp; Mbah Kruwet merupakan orang sepuh, asal muasal &hellip; <a href=\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/2019\/07\/18\/sejarah-desa-nongkodono\/\">Continued<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":26030,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[860],"tags":[4766,587,5173,5172],"class_list":["post-26029","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","tag-nongkodono","tag-ponorogo","tag-sejarah","tag-sejarah-desa-nongkodono"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v25.8 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>(Bahasa Indonesia) Sejarah Desa Nongkodono - Pusat Sumber Daya Buruh Migran<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/07\/18\/sejarah-desa-nongkodono\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"(Bahasa Indonesia) Sejarah Desa Nongkodono - Pusat Sumber Daya Buruh Migran\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Sorry, this entry is only available in Bahasa Indonesia.&nbsp; Konon berdasarkan cerita para sesepuh dan buku Kumpulan Sejarah Desa Tahun 1946 se-kecamatan Kauman, dikisahkan bahwa Desa Nongkodono awalnya berupa hutan yang lebat. Orang yang pertama kali membuka hutan tersebut\u00a0 adalah Mbah Kruwet. Selanjutnya diikuti oleh Mbah Suto.\u00a0 &nbsp; Mbah Kruwet merupakan orang sepuh, asal muasal &hellip; Continued\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/07\/18\/sejarah-desa-nongkodono\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Pusat Sumber Daya Buruh Migran\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2019-07-18T08:32:55+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/sejarah-desa-nongkodono.png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"625\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"448\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Redaksi\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Redaksi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/07\/18\/sejarah-desa-nongkodono\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/07\/18\/sejarah-desa-nongkodono\/\"},\"author\":{\"name\":\"Redaksi\",\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#\/schema\/person\/c442ac069d13106b9a2217ff902b2f59\"},\"headline\":\"(Bahasa Indonesia) Sejarah Desa Nongkodono\",\"datePublished\":\"2019-07-18T08:32:55+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/07\/18\/sejarah-desa-nongkodono\/\"},\"wordCount\":815,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/07\/18\/sejarah-desa-nongkodono\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/sejarah-desa-nongkodono.png\",\"keywords\":[\"Nongkodono\",\"Ponorogo\",\"Sejarah\",\"sejarah desa nongkodono\"],\"articleSection\":[\"News\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/07\/18\/sejarah-desa-nongkodono\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/07\/18\/sejarah-desa-nongkodono\/\",\"url\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/07\/18\/sejarah-desa-nongkodono\/\",\"name\":\"[:id]Sejarah Desa Nongkodono[:] - Pusat Sumber Daya Buruh Migran\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/07\/18\/sejarah-desa-nongkodono\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/07\/18\/sejarah-desa-nongkodono\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/sejarah-desa-nongkodono.png\",\"datePublished\":\"2019-07-18T08:32:55+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/07\/18\/sejarah-desa-nongkodono\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/07\/18\/sejarah-desa-nongkodono\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/07\/18\/sejarah-desa-nongkodono\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/sejarah-desa-nongkodono.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/sejarah-desa-nongkodono.png\",\"width\":625,\"height\":448},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/07\/18\/sejarah-desa-nongkodono\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Sejarah Desa Nongkodono\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/\",\"name\":\"Pusat Sumber Daya Buruh Migran\",\"description\":\"Rujukan Informasi Tenaga Kerja Indonesia ( TKI ) - Saling Belajar, Berbagi, dan Melindungi\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#organization\",\"name\":\"Pusat Sumber Daya Buruh Migran\",\"url\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/logo-psdbm-color.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/logo-psdbm-color.png\",\"width\":80,\"height\":80,\"caption\":\"Pusat Sumber Daya Buruh Migran\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#\/schema\/logo\/image\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#\/schema\/person\/c442ac069d13106b9a2217ff902b2f59\",\"name\":\"Redaksi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0ca19f984a8d3579b1afb58bfc8b6fc2c452afb56934aad3b98b72450693a4b9?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0ca19f984a8d3579b1afb58bfc8b6fc2c452afb56934aad3b98b72450693a4b9?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Redaksi\"},\"url\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/author\/admin\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"(Bahasa Indonesia) Sejarah Desa Nongkodono - Pusat Sumber Daya Buruh Migran","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/07\/18\/sejarah-desa-nongkodono\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"(Bahasa Indonesia) Sejarah Desa Nongkodono - Pusat Sumber Daya Buruh Migran","og_description":"Sorry, this entry is only available in Bahasa Indonesia.&nbsp; Konon berdasarkan cerita para sesepuh dan buku Kumpulan Sejarah Desa Tahun 1946 se-kecamatan Kauman, dikisahkan bahwa Desa Nongkodono awalnya berupa hutan yang lebat. Orang yang pertama kali membuka hutan tersebut\u00a0 adalah Mbah Kruwet. Selanjutnya diikuti oleh Mbah Suto.\u00a0 &nbsp; Mbah Kruwet merupakan orang sepuh, asal muasal &hellip; Continued","og_url":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/07\/18\/sejarah-desa-nongkodono\/","og_site_name":"Pusat Sumber Daya Buruh Migran","article_published_time":"2019-07-18T08:32:55+00:00","og_image":[{"width":625,"height":448,"url":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/sejarah-desa-nongkodono.png","type":"image\/png"}],"author":"Redaksi","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Redaksi","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/07\/18\/sejarah-desa-nongkodono\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/07\/18\/sejarah-desa-nongkodono\/"},"author":{"name":"Redaksi","@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#\/schema\/person\/c442ac069d13106b9a2217ff902b2f59"},"headline":"(Bahasa Indonesia) Sejarah Desa Nongkodono","datePublished":"2019-07-18T08:32:55+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/07\/18\/sejarah-desa-nongkodono\/"},"wordCount":815,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/07\/18\/sejarah-desa-nongkodono\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/sejarah-desa-nongkodono.png","keywords":["Nongkodono","Ponorogo","Sejarah","sejarah desa nongkodono"],"articleSection":["News"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/07\/18\/sejarah-desa-nongkodono\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/07\/18\/sejarah-desa-nongkodono\/","url":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/07\/18\/sejarah-desa-nongkodono\/","name":"[:id]Sejarah Desa Nongkodono[:] - Pusat Sumber Daya Buruh Migran","isPartOf":{"@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/07\/18\/sejarah-desa-nongkodono\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/07\/18\/sejarah-desa-nongkodono\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/sejarah-desa-nongkodono.png","datePublished":"2019-07-18T08:32:55+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/07\/18\/sejarah-desa-nongkodono\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/07\/18\/sejarah-desa-nongkodono\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/07\/18\/sejarah-desa-nongkodono\/#primaryimage","url":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/sejarah-desa-nongkodono.png","contentUrl":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/sejarah-desa-nongkodono.png","width":625,"height":448},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/07\/18\/sejarah-desa-nongkodono\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Sejarah Desa Nongkodono"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#website","url":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/","name":"Pusat Sumber Daya Buruh Migran","description":"Rujukan Informasi Tenaga Kerja Indonesia ( TKI ) - Saling Belajar, Berbagi, dan Melindungi","publisher":{"@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#organization","name":"Pusat Sumber Daya Buruh Migran","url":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/logo-psdbm-color.png","contentUrl":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/logo-psdbm-color.png","width":80,"height":80,"caption":"Pusat Sumber Daya Buruh Migran"},"image":{"@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#\/schema\/person\/c442ac069d13106b9a2217ff902b2f59","name":"Redaksi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0ca19f984a8d3579b1afb58bfc8b6fc2c452afb56934aad3b98b72450693a4b9?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0ca19f984a8d3579b1afb58bfc8b6fc2c452afb56934aad3b98b72450693a4b9?s=96&d=mm&r=g","caption":"Redaksi"},"url":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/author\/admin\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26029","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26029"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26029\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":26031,"href":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26029\/revisions\/26031"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/26030"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26029"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26029"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26029"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}