{"id":21157,"date":"2019-01-25T11:02:46","date_gmt":"2019-01-25T04:02:46","guid":{"rendered":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/?p=21157"},"modified":"2019-04-08T10:43:44","modified_gmt":"2019-04-08T03:43:44","slug":"hukum-mengkafirkan-muslim-lain","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/2019\/01\/25\/hukum-mengkafirkan-muslim-lain\/","title":{"rendered":"Hukum Mengkafirkan Muslim Lain"},"content":{"rendered":"<p>Menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) berarti belajar hidup dalam perbedaan. Negara tujuan para PMI bisa jadi negara yang sangat berbeda dengan Indonesia, baik dari sisi budaya, tradisi, bahasa, maupun praktik keagamaan. Perbedaan ini adalah realitas yang harus dihadapi tidak hanya dalam hitungan bulan, melainkan bisa jadi tahunan karena kontrak pekerjaannya. Permasalahannya adalah bagaimana kita menyikapi perbedaan di negara asing?<br><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>Terhadap perbedaan di negara asing, tentu saja PMI tidak dalam posisi untuk menolak atau menerima perbedaan tersebut. Menolak seluruh sesuatu yang berbeda membuat kita menjadi eksklusif. Sebaliknya, menerima seluruh perbedaan menjadikan kita kehilangan jati diri. Di sinilah, kita perlu belajar pada ikan laut. Ikan laut meskipun lahir, tumbuh, dan berkembang sehari-hari dalam lingkungan air asin, tetapi dia sendiri tidak asin (tawar). Ikan laut, dengan demikian, memiliki jati diri, prinsip kepribadian yang kokoh, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan yang mengitarinya sehari-hari.<br><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>Di antara perbedaan yang mungkin akan dihadapi adalah praktik keagamaan. Bila memiliki pengetahuan keagamaan yang mendalam (<em>mutafaqqih fiddin<\/em>), kita segera paham apakah perbedaan itu bersifat pokok (<em>principal, ushuliyyah<\/em>) atau hanya bersifat cabang (<em>technical, furu\u2019iyyah<\/em>). Akan tetapi, bila kita bukan ahli agama membiarkan adalah sikap yang terbaik, baik perbedaan itu bersifat pokok maupun cabang. &nbsp;Anggap saja perbedaan itu bagian dari dinamika praktik keagamaan yang sudah terjadi sejak zaman dahulu. Kita tidak harus mengikuti, tetapi juga tidak boleh melarangnya. Posisi PMI bukan sebagai pemegang otoritas untuk membenarkan atau menyalahkan perbedaan tersebut. Memahami dan bersikap toleran terhadap perbedaan adalah sikap yang bijak. &nbsp;&nbsp;<br><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-background has-vivid-green-cyan-background-color\"><strong>Mengkafirkan Seorang Muslim<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>Dalam posisi yang berbeda dari sisi keagamaan, betapa pun sangat dalam perbedaannya, kita tidak boleh menghukumi kafir kepada mereka yang masih bersyahadat dan menjalankan shalat. Ibnu Qudamah al-Maqdisi dalam kitab <em>Lum\u2019atul I\u2019tiqad<\/em> menyatakan \u201c<em>la <\/em><em>nukaffiru ahadan min ahlil qiblati bi dzanbin wa la nukhrijuhu \u2018anil Islam bi \u2018amalin\u201d<\/em> (kami tidak mengkafirkan seorang pun dari ahlul kiblat dengan sebab&nbsp; dosa yang dia lakukan, dan kami tidak mengeluarkannya dari Islam dengan sebab perbuatannya).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p><strong>.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>Dalam kenyataannya, saat ini mudah sekali sebagian orang menghukumi \u201c<em>kafir<\/em>\u201d kepada mereka yang berbeda penafsiran dan juga berbeda aliran keagamaan. Betapa mudahnya sebagian orang mengkafirkan muslim lainnya seolah mereka tidak takut dengan ancaman dari kutipan Hadits Nabi berikut: \u201c<em>Barang siapa memanggil dengan sebutan kafir atau musuh Allah padahal yang bersangkutan tidak demikian, maka tuduhan itu akan kembali kepada penuduh.&#8221;<\/em> (HR Bukhari-Muslim).<br><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>Atas kehati-hatian yang terkandung dalam Hadits tersebut, para ulama pada masa lalu sangat hati-hati (<em>ihtiyathiy<\/em>) untuk memvonis \u201ckafir\u201d kepada muslim lainnya, meskipun berbeda madzhab dan pandangan keagamaan. Qadli \u2018Iyad al-Maliki dalam kitab <em>asy-Syifa bi Ta&#8217;rif Huquq al-Musthafa<\/em> mengutip pandangan ulama bahwa<em>&#8220;Wajib menahan diri dari mengkafirkan para ahli ta&#8217;wil karena sungguh menghalalkan darah orang yang shalat dan bertauhid itu sebuah kekeliruan. Kesalahan dalam membiarkan seribu orang kafir itu lebih ringan dari pada kesalahan dalam membunuh satu nyawa muslim.<\/em>&#8220;<br><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>Pandangan senada juga dikemukakan oleh <em>Hujjatul Islam<\/em> Imam Abu Hamid al-Ghazali yang bermazhab Syafi&#8217;i dalam kitab&nbsp;<em>al-Iqtishad fil I&#8217;tiqad<\/em>: &#8220;<em>Agar menjaga diri dari mengkafirkan orang lain sepanjang menemukan jalan untuk itu. Sesungguhnya menghalalkan darah dan harta Muslim yang shalat menghadap qiblat, yang secara jelas mengucapkan dua kalimat syahadat, itu merupakan kekeliruan. Padahal kesalahan dalam membiarkan hidup seribu orang kafir itu lebih ringan dari pada kesalahan dalam membunuh satu nyawa Muslim.<\/em>\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-background has-light-green-cyan-background-color\"><br>Dalam konteks ini, Rasulullah SAW bersabda: &#8220;<em>Tiga perkara yang merupakan dasar keimanan: menahan diri dari orang yang mengucapkan La Ilaha illallah, tidak mengkafirkannya karena suatu dosa, dan tidak mengeluarkannya dari keislaman karena sebuah amalan<\/em>&#8230;&#8221; (HR Abu Dawud, Nomor 2170).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p><br>Dalam&nbsp;kitab <em>Shahih al-Bukhari<\/em>, dari Tsabit bin adh-Dhahhak, Rasulullah SW bersabda: \u201c<em>\u2026 dan melaknat seorang Mukmin seperti membunuhnya. Siapa saja yang menuduh seorang Mukmin dengan kekafiran, maka ia seperti membunuhnya<\/em>. (HR al-Bukhari No. 6105 dan Muslim No. 110 [146]). Dalam redaksi lain, Rasulullah bersabda: \u201cBarang siapa yang berkata kepada saudaranya \u201chai kafir\u201d, maka ucapan itu akan mengenai salah seorang dari keduanya.\u201d (HR <em>Shahih al-Bukhari&nbsp;<\/em>No. 6104 dan&nbsp;<em>Shahih Muslim&nbsp;<\/em>No. 60).<br><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>Dari \u2018Abdullah bin \u2018Umar, Nabi SAW bersabda: \u201c<em>Bila seseorang mengkafirkan saudaranya (yang Muslim), maka pasti seseorang dari keduanya mendapatkan kekafiran itu. <\/em>(HR Imam al-Bukhari No. 6104, Imam Muslim No. 60 (110) dan Imam at-Tirmidzi No. 2637). Dalam riwayat lain: \u201c<em>Jika seperti apa yang dikatakan. Namun jika tidak, kekafiran itu kembali kepada dirinya sendiri<\/em>. (HR Imam Muslim No. 60).<br><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>Dari Abu Dzarr ra, Nabi SAW bersabda: \u201c<em>Barang siapa memanggil seseorang dengan kafir atau mengatakan kepadanya \u201chai musuh Allah\u201d, padahal tidak demikian halnya, melainkan panggilan atau perkataannya itu akan kembali kepada dirinya<\/em>.\u201d [HR. Imam al-Bukhari No. 3508 dan Imam Muslim No. 61(112)].<br><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>Yang menjadi masalah adalah di balik tuduhan mengkafirkan orang lain itu sebenarnya tersembunyi perasaan bahwa dirinya lebih baik dari yang dituduhkan, saya lebih islami, lebih suci, dan lebih benar, serta akan masuk surga ketimbang orang yang dituduhkan itu. Di sini terdapat sikap <em>takabbur, \u2018ujub,<\/em> &nbsp;dan merendahkan orang lain dalam beragama. <br><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>Sikap <em>takfir<\/em> semacam ini seperti pengulangan sejarah kelam umat Islam atas terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan, yang kemudian memicu terjadinya perang <em>shiffin<\/em> &nbsp;antara pasukan Ali bin Abi Thalib dan Mu&#8217;awiyah, dan perang <em>jamal<\/em> antara Ali bin Abi Thalib dan Sayyidatina \u2018Aisyah ra. Semuanya adalah sahabat dan keluarga Nabi SAW yang kita hormati. Namun, akibat perbedaan politik yang dibungkus dengan argumentasi agama sebagian pihak mengkafirkan pihak lain.<br><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-background has-light-green-cyan-background-color\">Penjelasan ini penting bagi PMI untuk bersikap terhadap perbedaan-perbedaan yang mungkin terjadi dan dihadapi pada saat berada di negara tujuan bekerja. &nbsp;PMI tidak sepatutnya terlibat dalam mengkafirkan dan juga dikafirkan karena perbedaan yang ada. Sikap toleransi (<em>tasamuh<\/em>) atas perbedaan adalah sikap yang paling bijaksana.[] &nbsp;<br><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) berarti belajar hidup dalam perbedaan. Negara tujuan para PMI bisa jadi negara yang sangat berbeda dengan Indonesia, baik dari sisi budaya, tradisi, bahasa, maupun praktik keagamaan. Perbedaan ini adalah realitas yang harus dihadapi tidak hanya dalam hitungan bulan, melainkan bisa jadi tahunan karena kontrak pekerjaannya. Permasalahannya adalah bagaimana kita menyikapi &hellip; <a href=\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/2019\/01\/25\/hukum-mengkafirkan-muslim-lain\/\">Continued<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":706,"featured_media":18786,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[869],"tags":[102,3308,4820,4867],"class_list":["post-21157","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini","tag-buruh-migran-indonesia","tag-pekerja-migran-indonesia","tag-pmi","tag-tki-2"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v25.8 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Hukum Mengkafirkan Muslim Lain - Pusat Sumber Daya Buruh Migran<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/01\/25\/hukum-mengkafirkan-muslim-lain\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Hukum Mengkafirkan Muslim Lain - Pusat Sumber Daya Buruh Migran\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) berarti belajar hidup dalam perbedaan. Negara tujuan para PMI bisa jadi negara yang sangat berbeda dengan Indonesia, baik dari sisi budaya, tradisi, bahasa, maupun praktik keagamaan. Perbedaan ini adalah realitas yang harus dihadapi tidak hanya dalam hitungan bulan, melainkan bisa jadi tahunan karena kontrak pekerjaannya. Permasalahannya adalah bagaimana kita menyikapi &hellip; Continued\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/01\/25\/hukum-mengkafirkan-muslim-lain\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Pusat Sumber Daya Buruh Migran\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2019-01-25T04:02:46+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2019-04-08T03:43:44+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/buya-husein.png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"553\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"339\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Marzuki Wahid\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Marzuki Wahid\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"9 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/01\/25\/hukum-mengkafirkan-muslim-lain\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/01\/25\/hukum-mengkafirkan-muslim-lain\/\"},\"author\":{\"name\":\"Marzuki Wahid\",\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#\/schema\/person\/73c3b3e894150065224b058680eebe6d\"},\"headline\":\"Hukum Mengkafirkan Muslim Lain\",\"datePublished\":\"2019-01-25T04:02:46+00:00\",\"dateModified\":\"2019-04-08T03:43:44+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/01\/25\/hukum-mengkafirkan-muslim-lain\/\"},\"wordCount\":1794,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/01\/25\/hukum-mengkafirkan-muslim-lain\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/buya-husein.png\",\"keywords\":[\"Buruh Migran Indonesia\",\"Pekerja Migran Indonesia\",\"PMI\",\"TKI\"],\"articleSection\":[\"Opinion\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/01\/25\/hukum-mengkafirkan-muslim-lain\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/01\/25\/hukum-mengkafirkan-muslim-lain\/\",\"url\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/01\/25\/hukum-mengkafirkan-muslim-lain\/\",\"name\":\"Hukum Mengkafirkan Muslim Lain - Pusat Sumber Daya Buruh Migran\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/01\/25\/hukum-mengkafirkan-muslim-lain\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/01\/25\/hukum-mengkafirkan-muslim-lain\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/buya-husein.png\",\"datePublished\":\"2019-01-25T04:02:46+00:00\",\"dateModified\":\"2019-04-08T03:43:44+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/01\/25\/hukum-mengkafirkan-muslim-lain\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/01\/25\/hukum-mengkafirkan-muslim-lain\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/01\/25\/hukum-mengkafirkan-muslim-lain\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/buya-husein.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/buya-husein.png\",\"width\":553,\"height\":339,\"caption\":\"Sumber Foto: Pixabay.com\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/01\/25\/hukum-mengkafirkan-muslim-lain\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Hukum Mengkafirkan Muslim Lain\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/\",\"name\":\"Pusat Sumber Daya Buruh Migran\",\"description\":\"Rujukan Informasi Tenaga Kerja Indonesia ( TKI ) - Saling Belajar, Berbagi, dan Melindungi\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#organization\",\"name\":\"Pusat Sumber Daya Buruh Migran\",\"url\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/logo-psdbm-color.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/logo-psdbm-color.png\",\"width\":80,\"height\":80,\"caption\":\"Pusat Sumber Daya Buruh Migran\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#\/schema\/logo\/image\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#\/schema\/person\/73c3b3e894150065224b058680eebe6d\",\"name\":\"Marzuki Wahid\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcb6c92afc1d85ec5245d94a665203510c1c653d98793bc24e8b4491d2f34e36?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcb6c92afc1d85ec5245d94a665203510c1c653d98793bc24e8b4491d2f34e36?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Marzuki Wahid\"},\"description\":\"KH. Marzuki Wahid adalah seorang dosen, peneliti, aktivis, dan sekretaris Lakpesdam PBNU Jakarta.\",\"url\":\"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/author\/marzuki\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Hukum Mengkafirkan Muslim Lain - Pusat Sumber Daya Buruh Migran","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/01\/25\/hukum-mengkafirkan-muslim-lain\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Hukum Mengkafirkan Muslim Lain - Pusat Sumber Daya Buruh Migran","og_description":"Menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) berarti belajar hidup dalam perbedaan. Negara tujuan para PMI bisa jadi negara yang sangat berbeda dengan Indonesia, baik dari sisi budaya, tradisi, bahasa, maupun praktik keagamaan. Perbedaan ini adalah realitas yang harus dihadapi tidak hanya dalam hitungan bulan, melainkan bisa jadi tahunan karena kontrak pekerjaannya. Permasalahannya adalah bagaimana kita menyikapi &hellip; Continued","og_url":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/01\/25\/hukum-mengkafirkan-muslim-lain\/","og_site_name":"Pusat Sumber Daya Buruh Migran","article_published_time":"2019-01-25T04:02:46+00:00","article_modified_time":"2019-04-08T03:43:44+00:00","og_image":[{"width":553,"height":339,"url":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/buya-husein.png","type":"image\/png"}],"author":"Marzuki Wahid","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Marzuki Wahid","Est. reading time":"9 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/01\/25\/hukum-mengkafirkan-muslim-lain\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/01\/25\/hukum-mengkafirkan-muslim-lain\/"},"author":{"name":"Marzuki Wahid","@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#\/schema\/person\/73c3b3e894150065224b058680eebe6d"},"headline":"Hukum Mengkafirkan Muslim Lain","datePublished":"2019-01-25T04:02:46+00:00","dateModified":"2019-04-08T03:43:44+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/01\/25\/hukum-mengkafirkan-muslim-lain\/"},"wordCount":1794,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/01\/25\/hukum-mengkafirkan-muslim-lain\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/buya-husein.png","keywords":["Buruh Migran Indonesia","Pekerja Migran Indonesia","PMI","TKI"],"articleSection":["Opinion"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/01\/25\/hukum-mengkafirkan-muslim-lain\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/01\/25\/hukum-mengkafirkan-muslim-lain\/","url":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/01\/25\/hukum-mengkafirkan-muslim-lain\/","name":"Hukum Mengkafirkan Muslim Lain - Pusat Sumber Daya Buruh Migran","isPartOf":{"@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/01\/25\/hukum-mengkafirkan-muslim-lain\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/01\/25\/hukum-mengkafirkan-muslim-lain\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/buya-husein.png","datePublished":"2019-01-25T04:02:46+00:00","dateModified":"2019-04-08T03:43:44+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/01\/25\/hukum-mengkafirkan-muslim-lain\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/01\/25\/hukum-mengkafirkan-muslim-lain\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/01\/25\/hukum-mengkafirkan-muslim-lain\/#primaryimage","url":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/buya-husein.png","contentUrl":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/buya-husein.png","width":553,"height":339,"caption":"Sumber Foto: Pixabay.com"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/2019\/01\/25\/hukum-mengkafirkan-muslim-lain\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Hukum Mengkafirkan Muslim Lain"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#website","url":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/","name":"Pusat Sumber Daya Buruh Migran","description":"Rujukan Informasi Tenaga Kerja Indonesia ( TKI ) - Saling Belajar, Berbagi, dan Melindungi","publisher":{"@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#organization","name":"Pusat Sumber Daya Buruh Migran","url":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/logo-psdbm-color.png","contentUrl":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/logo-psdbm-color.png","width":80,"height":80,"caption":"Pusat Sumber Daya Buruh Migran"},"image":{"@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#\/schema\/person\/73c3b3e894150065224b058680eebe6d","name":"Marzuki Wahid","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcb6c92afc1d85ec5245d94a665203510c1c653d98793bc24e8b4491d2f34e36?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcb6c92afc1d85ec5245d94a665203510c1c653d98793bc24e8b4491d2f34e36?s=96&d=mm&r=g","caption":"Marzuki Wahid"},"description":"KH. Marzuki Wahid adalah seorang dosen, peneliti, aktivis, dan sekretaris Lakpesdam PBNU Jakarta.","url":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/author\/marzuki\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21157","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/706"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21157"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21157\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":21963,"href":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21157\/revisions\/21963"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/18786"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21157"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21157"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/buruhmigran.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21157"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}