KJRI Jeddah Janjikan Pemulangan Johra

Suasana saat Suryadi, salah satu staff KJRI Jeddah saat mengunjungi Johra dan istrinya.

Suasana saat Suryadi, salah satu staff KJRI Jeddah saat mengunjungi Johra dan istrinya.

Kabar baik diterima Johra bin Sueb dan Munjinah binti Martasari yang merupakan suami istri asal Kampung Begor Pasar, Kecamatan Pontang, Provinsi Banten yang menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke Arab Saudi pada tahun 2005. Minggu (19/02/2012), Wakil Kepala Teknis Ketenagakerjaan KJRI Jeddah, Suryadi datang ke sebuah rumah di kawasan Al-Rabuah 1 Dist Jeddah Saudi Arabia, di mana Johra yang lumpuh akibat stroke dititipkan.

Kondisi Johra membuat beberapa orang sesama TKI di Arab ikut prihatin dan terus mengupayakan berbagai jalan agar Johra segera mendapat penanganan dari perwakilan pemerintah Indonesia di Arab Saudi. Selain menggalang bantuan untuk biaya hidup Johra dan istri, mereka juga mengupayakan penampungan dan koordinasi dengan pejabat di KJRI Jeddah.

Saat melihat kondisi Johra yang sangat memprihatinkan, Suryadi berjanji, pihak KJRI akan segera membawa Johra ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan sementara sambil menunggu proses pemulangannya diurus.

“Kami akan segera membuatkan  Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) dulu buat pak Johra, selanjutnya segera bersama-sama kita bawa ke rumah sakit. Nanti pengambilan sidik jari untuk kepantingan pemberkasan di Imigrasi akan kami ambil langsung dari pak Johra di rumah sakit, tidak perlu pak Johra dibawa ke imigrasi(tar’il)” tutur Suryadi pada beberapa TKI yang mendampingi Johra.

Pada TKI yang mendampingi Johra, Suryadi juga menanyakan informasi mengenai tahun berapa Johra masuk saudi?, berapa lama bekerja di majikan asal?, apa alasan Johra lari dari majikan?, serta sejak kapan menderita sakit?. Kunjungan yang dilakukan staf KJRI Jeddah seolah memberikan angin segar dan harapan akan segera ditanganinya persoalan tersebut. Sayang, hingga dua hari setelah kunjungan (21/02/2012) pihak KJRI belum ada yang datang ataupun menghubungi istri dan beberapa TKI yang mendampingi Johra untuk membawanya ke Rumah sakit.

“Ketika coba kami hubungi melalui sambungan telepon, kepala staf Teknis Ketenagakerjaan KJRI Jeddah, Budi Hidayat Laksana mengatakan, beliau baru mengirimkan laporan catatan dinas ke pusat (Kemenlu di Jakarta). Budi Hidayat Laksana juga mengatakan pihak KJRI merasa bingung mengenai masalah tiket kepulangan Johra.  Kondisi Johra diprediksikan akan membutuhkan sampai empat kursi pesawat”, tutur Braja Musti, salah satu relawan yang mendampingi penanganan Johra dan istrinya.

This entry was posted in Berita, Headline and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.
  • Raden petruk

    Beginilah nasib pahlawan devisa negara indonesia di negara onta yang dipandang sebelah mata sama pemerintah negara sendiri duitnya mau tapi sama orangnya masa bodo nasib2,knapa….?

  • Adi Nugraha

    Asalamualaikum,Dengan ini saya mengajukan pertanyaan,mengapa setiap pemulangan TKI/TKW oper strayer khususnya di aerah Jedah Saudi Arabia tidak di sosialisaikan secara meluas melalui selebaran atau media elektronik lainnya,ini sangatlah membantu karna situasi dan kondisinya tidaklah terbuka seperti di indonesia.kemudian disinyalir untuk pemulangan tahun 2012 bulan september telah dipungut biaya Sr.1000/orang dengan dalih untuk kelancaran pemulangan dan tanpa masuk Tarhil atau Deportasi.sekitar 350 orang yang sudah membayar biaya tersebut dan mereka menungu pangilan dari pihak embassy untuk keberangkatan pemulangan.Apakah benar pemulangan TKI/TKW oper strayer harus mengeluarkan biaya? bukankah sudah menjadi tangungan pemerintah untuk pemulangan,bagai mana kalau TKI/TKW teraebut tidak punya uang atau sakit dan ingin tetap pulang,dimanakah letak kemanusian dengan ini saya minta penjelasan dari Bapak.Bagaimanapun jeleknya kami adalah bangsa Indonesia yang butuh pertolongan.terimakasih.

  • http://www.facebook.com/salma.suhailah Salma Suhailah

    asalamu alaikum wr….masih bisakah untk kami tki oper stayer………..makasih