Selayang Pandang Organisasi BMI di Hong Kong

Suasana BMI di Hong Kong saat berkumpul di Victoria Park. (dok.Fera Nuraini)

Suasana BMI di Hong Kong saat berkumpul di Victoria Park

Organisasi buruh migran memunyai peran penting dalam melindungi anggotanya. Sejalan dengan konvensi International Labour Organization (ILO) tahun 1987, para buruh migran memunyai hak untuk membentuk serikat-serikat dan asosiasi pekerja atas pilihan mereka sendiri. Mereka juga diperbolehkan bergabung dan diwakili oleh serikat-serikat pekerja yang ada di negara-negara penerima.

Organisasi Buruh Migran Indonesia (BMI) di Hong Kong terbilang berkembang dan maju dibanding organisasi BMI yang ada di negara lainnya. Hal itu disebabkan Hong Kong merupakan negara yang menjunjung nilai-nilai persamaan hak, tidak membeda-bedakan manusia dan latar belakangnya. Begitu pula dengan kebebsasan berorganisasi di Hong Kong dijamin sepenuhnya oleh pemerintah, sehingga BMI di Hong Kong memunyai kebebasan untuk berorganisasi dan berserikat sesuai dengan keinginan.

Di Hong Kong ada banyak sekali organisasi dan asosiasi yang didirikan oleh BMI di antaranya adalah Indonesian Migrant Worker Union (IMWU), Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia (ATKI), Koalisi Tenaga Kerja Indonesia Hong Kong (KOTHIKO), dan masih banyak lagi komunitas BMI lainnya.

Perjalanan IMWU sendiri sangat panjang, dahulu nama cikal bakal IMWU adalah Indonesian Group-Hong Kong (IG-HK) yang didirikan oleh BMI pada 1993. Saat itu, organisasi BMI yang ada tidak banyak memberi perhatian lebih terkait persoalan hak-hak buruh migran. Aktivitas IG-HK adalah melakukan kerja-kerja pembelaan terhadap hak-hak BMI yang dilanggar oleh agen dan majikan. Dari hasil kerja pengorganisiran massa beberapa tahun yang dilakukan, jumlah anggota IG-HK tumbuh, keanggotaannya semakin bertambah.

Kemudian pada 1999, keputusan untuk mengubah nama IG-HK menjadi sebuah serikat buruh diambil dengan mendaftarkan Indonesian Migrant Workers Union (IMWU) ke Pemerintah Hong Kong. IMWU menjadi serikat BMI satu-satunya yang ada di Hong-Kong pada saat itu. Anggota IMWU adalah BMI yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga asal Indonesia di Hong Kong.

Pada 2004, jumlah anggota IMWU adalah 2000 orang. Sepanjang perjalanan IMWU, lembaga ini acapkali memimpin perjuangan massa BMI di Hong Kong melawan kebijakan anti buruh migran yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia dan Hong Kong. Kemenangan-kemenangan kecil yang dperoleh lewat perjuangan massa BMI, menjadi bahan bakar untuk melakukan kerja-kerja perjuangan massa buruh migran.

Selain IMWU, di Hong Kong masih ada banyak organisasi yang bergerak di pelbagai bidang, seperti organisasi BMI yang fokusnya hanya pada kegiatan kebudayaan dan seni, olahraga, agama (dakwah), menulis (Lingkar Pena), investasi atau usaha, dan masih banyak lagi. Untuk mempererat hubungan organisasi yang ada, di Hong Kong juga ada Koalisi Organisasi Tenaga Kerja Indonsia di Hong Kong (KOTKIHO).

KOTHIKO didirikan oleh 7 organisasi BMI pada Agustus 2000, atas dasar kebersamaan, solidaritas, dan perasaan senasib. Ketujuh oraganisasi ini adalah IMWU, Forum Komunikasi Mu’minat Peduli Umat (FKMPU), Yogya International Club (YIC), Amanah, Sanggar Budaya, Majelis Taklim dan Persatuan Dakwah Victoria (PDV). Pada 2008, Al Mubarokah dan Mar’atush Sholihah masuk menjadi anggota KOTKIHO, sehingga saat ini anggota KOTKIHO menjadi 9 organisasi.

Koalisi ini bertujuan untuk menyediakan wadah pemersatu bagi organisasi BMI yang ada dan melakukan kerja-kerja sosial dengan mendirikan pusat pelatihan (training centre) untuk TKI, menyediakan pelayanan advokasi bagi BMI bermasalah, dan mendirikan rumah singgah untuk BMI bermasalah. Selain melakukan kerja-kerja sosial tersebut, tugas penting KOTHIKO adalah membangun kerjasama dan komunikasi dengan organisasi buruh migran dari negara lain yang ada di Hong-Kong.

Salah satu wujud peran KOTHIKO membangun komunikasi dengan organisasi buruh lainnya adalah  menjadi anggota Coalition for Migrant Rights (CMR) sebuah koalisi organsiasi buruh migran lintas bangsa di Hong Kong. Koalisi ini terdiri dari pelbagai macam organisasi buruh migran, seperti Filipina, Nepal, Thailand, dan Srilangka. Selain itu, KOTHIKO juga mengambil peran aktif dalam pendirian Asian Domestic Workers Alliance (ADWA) yang merupakan aliansi organisasi buruh migran Penata Laksana Rumah Tangga di seluruh Asia.

Pada saat-saat tertentu biasanya organisasi yang tergabung dalam KOTHIKO melaksanakan kegiatan bersama dan saling mendukung satu sama lain, misalnya ketika perlu turun jalan untuk melakukan aksi bersama. Selain aksi turun jalan, ada pelbagai kegiatan semacam pelatihan, kursus, dan seminar yang bisa meningkatkan kemampuan yang bisa diikuti oleh buruh migran secara gratis ataupun berbayar.

Kesempatan berorganisasi di Hong Kong tidak hanya berjejaring dengan organisasi asal Indonesia saja, akan tetapi dengan orgenisasi buruh migran dari negara lain, seperti Philipina, Srilanka, Thailand, dan India. Pada waktu-waktu tertentu organisasi BMI di Hong Kong juga selalu dilibatkan dalam rapat-rapat oleh pemerintahan Hong Kong dan juga perwakilan indonesia yang ada di sana sekalipun seringkali berseberangan. (Narsidah & Fika Murdiana R)

Narsidah

About Narsidah

Sekretaris Paguyuban Perlindungan Buruh Migran dan Perempuan Seruni Banyumas ini adalah mantan TKI Hong Kong yang kini aktif mendampingi dan memperjuangkan hak-hak TKI di Banymas dan sekitarnya.
This entry was posted in Informasi Negara Tujuan, Kajian and tagged , , . Bookmark the permalink.
  • Ahmad

    Apakah bentuk kerjasama jaringan antar organiasi ini? Sangat senang mendengar banyak kerjasama antar organisasi.

  • Aleksander Mangoting

    Ya kami senang dapat bergabung dengan web ini. Kami ingin mengetahui lebih jauh mengenai organisasi buruh mana yang banyak orang Sulawesi Selatan menjadi anggota terutama dari daerah Toraja. Siapa tahu ke depan, kami dapat mengunjungi Hong Kong dan dapat bertemu dengan para buruh migrant asal Toraja.